Pembelajaran konvensional seringkali masih diterapkan di kelas. Ceramah selalu mendominasi kegiatan pembelajaran dengan sedikit upaya melibatkan akitifitas siswa baik secara fisik dan psikis. Jika hal tersebut terus berlangsung, siswa akan terbiasa pasif, tanpa adanya kreatifitas diri, juga akan membuat bosan. Padahal Salah satu konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwa dalam pembelajaran hendaknya juga tidak melupakan unsur “bermain” yang tentu sesuai dengan perkembangan usianya.
Melihat situasi ini, guru memandang perlu adanya penerapan kegiatan pembelajaran yang memerdekakan, dalam artian siswa mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan, membuat siswa terlibat aktif dalam pembelajaran serta membiasakan siswa untuk saling bekerjasama dalam mencapai tujuan, juga yang tidak kalah penting adalah pembelajaran mencapai hasil pembelajaran seperti yang diinginkan. Karenanya guru mendesain pembelajaran menggunakan model make a match.
Tujuan dari adanya kegiatan aksi nyata yang telah saya lakukan yaitu adalah berupaya agar siswa lebih senang dan semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa terlihat aktif, baik secara fisik maupun psikis dalam pembelajaran, mampu menerapkan kerjasama antar siswa dapat terwujud secara dinamis, serta meningkatkan hasil belajar siswa.
Kegiatan ini berjalan lancar dan hasilnya amat berdampak positif, terlihat dari semua siswa dengan berbagai karakter secara merata bisa terlibat aktif dalam pembelajaran, semua antusias dan menyukai aktivitas pembelajaran yang sudah dilakukan, serta sebagian besar siswa mampu meningkatkan hasil belajar sesuai tujuan pembelajaran.
Selalu ada pembelajaran bermakna yang didapatkan dari setiap kegian positif, seperti halnya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model make a match ini. Bagi saya sebagai guru apalagi guru SD, harus lebih pandai mengelola kegiatan pembelajaran apalagi jika kegiatannya berada di ruang terbuka, karena perhatian siswa gampang teralihkan sehingga pengarahan pun menjadi terkendala akibat siswa yang terbagi konsentrasinya antara mendengarkan penjelasan dan memperhatikan kondisi sekitar.
Bagi saya sebagai guru, ada beberapa hal yang memuaskan dengan kegiatan ini, yaitu ketika siswa ditanya mengenai perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran, secara antusias serempak mereka mengutarakan ingin sekali melakukan hal yang sama di kesempatan lain. Ini membuktikan bahwa mereka senang dan bergembira dalam belajar. Pada saat evaluasi pembelajaranpun, hampir semua siswa mampu memahami materi pelajaran. Ini berarti kegiatan bersenang-senang yang baru saja mereka lakukan ternyata sebenarnya adalah sebuah kegiatan belajar namun dilakukan secara tidak biasa. Inilah wujud pembelajaran yang memerdekakan, untuk membentuk siswa siswa yang merdeka.
Setelah melakukan kegiatan refleksi, ada beberapa rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang, yaitu mengenai pengelolaan waktu yang lebih efektif dan efisien, mengingat pelaksanaannya memakan waktu yang cukup panjang. Selain itu, ada baiknya pengarahan dilakukan di dalam kelas sehingga perhatian siswa lebih terfokus pada arahan guru, dan dikarenakan ruang kelas kurang kondusif untuk beraktifitas secara leluasa, maka siswa di bawa ke lapangan untuk menerapkan kegiatan yang telah guru jelaskan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar